judul diatas adalah quot ironi yang setiap hari mengingatkan saya atas kekuasaanNya…

“cita-cita kamu apa kalau sudah besar?”… tiap ada yang bertanya seperti itu saya akan menjawab “cita-citaku jadi dokter”…sejak duduk di bangku tk tidak ada cita-cita lain yang terlintas dalam pikiran saya selain d.o.k.t.e.r. Kenapa!? hahaha tentu saja jawabannya amat sangatlah mudah semua itu berkat kemampuan emak saya tersayang, dia telah mencuci otak saya sejak sebelum menginjak usia 5 tahun,,ntah bagaimana caranya beliau mencuci otak saya agar jadi dokter, dan memang sejak sebelum tk saya termasuk pengunjung setia para dokter..hihihi

Dimulai dengan usia bawah lima tahun waktu itu saya terkena cacar (baca: variola,,,ni cacar beneran loh ya beda ama cacar air (cacar bo’ong2an) atau varicella hehehe), gara2 kena ‘gudik’ ini saya sempet beberapa bulan bolak-balik sidareja (jateng) – cilacap (bapak saya waktu itu sedang bertugas di sidareja), kulit saya!? hmm jangan ditanya n dibayangkan,,cur-cur-hancur (beda total loh sama sekarang :p). Knapa saya perlu bolak-balik cilacap yang membutuhkan waktu kira2 2 jam perjalanan dari rumah waktu itu,,,, ya karena saya harus berobat demi mendapatkan tekstur dan warna aseli kulit saya yang indah yang diturunkan oleh kedua orang tua saya dan ditakdirkan olehNYA (hihihi kepanjangan,,, bertele-tele,,, biasalah namanya juga orang jawa :D). Dan disitulah pertama kali saya mengetahui dan memahami apa yang disebut dengan dokter, tapi masalahnya saya sudah lupa nama beliau yang memberi paparan awal radiasi ‘dokter’nya itu … tapi siapapun dia saya sangat berterimakasih karena telah membuat emak saya begitu bersemangat tanpa lelah mewujudkan anak yang terakhir ini menjadi dokter🙂

pindah ke banjar (lagi) (jawa barat) usia 5 tahunan, ganti ternyata sistem pernafasan saya yang menggiring saya kembali berlangganan dokter..Saya terkena Tuberculosis/TB Anak (baca: ‘flek’), hal ini lah yang menyebabkan saya harus berobat rutin kembali ke dokter 6 bulan berturut-turut, kali ini rutenya banjar-jogja, 5 jam perjalanan tiap bulan. Almarhum Dokter Ismangun Sp. A (baca: spesialis anak),, dokter baik yang hanya saya ingat siluetnya saja, akhirnya berhasil kembali mengikat hati saya (dan tentu emak saya) untuk menjadi dokter,, disinilah pertama kali saya mengenal dan merasakan jarum suntik,,mungkin karena itu juga saya tidak takut disuntikkan obat ataupun diambil darahnya.

menginjak usia SD kelas V, saya pindah ke Sulawesi Utara, tinggal di ibukota provinsi Manado. Jawaban atas cita-cita saya masih belum berubah..d.o.k.t.e.r. Kenapa!? yup karena berkat jasa salah satu dokter disinilah saya berhasil keluar dari amukan emak tersayang saya..gmn gak tiap malam saya batuk “grok,,grok,,grok,,,” nafas “ngik..ngik..ngik..” dan emakku selalu mengomel “dhek mama kan udah bilang..bla,,bla,,bla”…”dhek makanya jangan bla,,bla,,bla,,,” ni berlangsung hampir sebulan,, mamaku si mikirnya batuk biasa,,so, gak diobatin BLAS! mungkin kesian ma anaknya yang jadi junkies (baca: peminum obat-obatan) sejak kecil, tapi akhirnya menyerah juga si emak,,,gimana gak, klo tiap malem kuganggu dengan nyanyian bronkhus (baca: saluran pernafasan)-ku yang berlendir hihihihi (maaf ya nek nggilani)…Dan akhirnya terbuka sudah tabir kegelapan malamku yang selalu mengganggu..yup setelah dibawa ke dokter, dia bilang “Ibu, anaknya ini kena Asthma, jadi gak boleh capek-capek banget, rumah harus bersih jangan sampai berdebu”…. ting..tong,,, beberapa hari kemudian nyanyian malamku pun menghilang sudah setelah mengonsumsi obat dan mengantongi obat hisap..

pindah jogja masuk kelas 2 smp, saya mulai sering merasa pusing-pusing,, dan ternyata mata saya mengalami apa yang dinamakan miopia (baca: rabun jauh),, diawali dengan minus 1/4 kanan dan kiri terus berlanjut meningkatkan rekor minusnya setiap tahun hingga sekarang hihihi jangan tanya saya minus berapa sekarang,,tapi yang pasti kacamata sudah menjadi belahan jiwa saya :p

Masuk di salah satu SMA negeri di jogja yang memiliki yel-yel ‘teladan jayamahe’ yang dahulunya juga merupakan SMA-nya bapak saya, cita-cita saya pun belum berubah  di tahun pertama saya, masih juga d.o.k.t.e.r (emak saya tenang)…. Tapi sebenernya keinginan itu mulai pudar karena Alhamdulillah tidak ada penyakit lagi yang menjangkiti saya sehingga mengharuskan saya terpapar dengan radiasi ‘dokter’ dan dilain pihak saat masuk ditahun kedua di SMA ini saya berkenalan lebih dekat dengan yang namanya ekonomi dan akuntansi, suka dengan pelajaran dan juga suka dengan pembuatan neraca2 keuangan. Saat hampir-hampir akhir penentuan jurusan IPA ato IPS, saya akhirnya bilang “aku kok sekarang jadi ekonom” (emak saya gusar :p) sedangkan papa saya tetap tenang tidak memaksakan tapi hanya memberikan pandangan “dhek,, gpp mau jadi ekonom, ataupun mau jadi apapun tapi biar basicnya lebih kuat mending tetap masuk IPS, liat miranda gultom (yang waktu itu jadi gubernur BI) dia dulu IPA loh”…skak mate,,yup saya selalu mendengar kata-kata bapak saya (emak saya kembali tenang).

Dilema terakhir adalah masa-masa akhir tahun ketiga saya di SMA,, yup kali ini adalah “Kedokteran VS. Teknik Industri” berkenalan dengan materi matematika yang judulnya **** (ora kelingan meneh,,,,hehehe) menjadikan ambisi saya dengan kedokteran dan ekonomi pudar,,, dan emak saya pun mulai gusar kembali…

siapa bilang jadi anak terakhir itu enak!? ntah lah semua anak ragil merasakan yang saya rasakan atau tidak,, tetapi yang pasti sejak kecil dalam hati ini ada ambisi yang selalu ingin memenuhi semua keinginan orang tua,, memberikan yang terbaik yang belum diberikan oleh kedua kakakku untuk mereka. Berat rasanya kadang-kadang, tapi ketika kita bisa dan berhasil memberikan apa yang mereka inginkan rasanya gak bisa digambarkan,,, kayak candu,,,makin ingin memberikan yang lebih untuk mereka.

Akhirnya saat UM UGM 2004 (baca: ujian masuk ugm) saya tetap menjadikan kedokteran sebagai pilihan pertama, teknik industri pilihan kedua, dan farmasi sebagai pilihan terakhir saya. Alhamdulillah atas ijinNya saya diterima dipilihan pertama…Dan saya pun merasakan candu kebahagiaan orang tua saya lagi^^

Orang2 bilang kalo yang masuk ke kedokteran itu kebanyakan atasa keinginan orang tua.. awalnya saya beranggapan seperti itu. Anggapan yang saya yakini selama 1 tahun saya menjadi mahasiswa,,anggapan pengecut yang dijadikan kambing hitam terhadap ketidakberhasilan saya di 2 semester awal, hingga akhirnya saya bertemu dengan dr. Rina yang waktu itu menjadi dosen koordinator,,, teringat sekali waktu beliau berkata, “okey,,,katakanlah kalian masuk sini karena keinginan orang tua kalian, tapi hey,,,kalian sudah lebih 17 tahun saat menentukan pilihan itu,,, kalian sendiri yang melingkarkan pilihan di kedoteran ini dengan pensil 2b kalian, jadi kenapa kalian disini ya karena keputusan yang kalian ambil, jangan cengeng dan manja dengan anggapan semua karena keinginan orang tua, kalian sudah dewasa tanggung jawablah dengan keputusan kalian sendiri,, kalau memang benar2 tidak mau dsini sekarang belum terlambat untuk pidah jurusan lain,tetapi kalau kalian menganggap ini jalan hidup kalian… berjuanglah!!” gak pernah saya lupa perasaan saya waktu itu,,, benar-benar tersadar (bahwa ini semua keputusan saya sendiri) dan termotivasi (untuk berjuang lebih keras)…

Alhamdulillah candu kebahagiaan orang tua saya bisa saya rasakan lagi ketika lulus S1 dan lulus profesi……..^^v